“Mana Kakus?”

1105 (i)
AKTIVIS non governmental organization (NGO) yang sejak seminggu ini berada di Termez bingung harus melakukan apa. Pasalnya baik PBB dan pemerintah Uzbekistan belum mau buka mulut soal kapan jembatan sungai Amu Darya akan dibuka untuk mengalirkan bantuan kemanusiaan. Kalau memang tidak mau dibuka, bilang dari sekarang. Supaya jelas bagi kami, mau angkat kaki atau bertahan. Begitu sungut kebanyakan aktivis NGO.

Aktivis-aktivis NGO yang kebanyakan orang bule ini punya alasan untuk kesal. Bantuan yang akan mereka berikan sudah siap di negara masing-masing. Begitu ada perintah antar dari Termez, maka puluhan, atau mungkin ratusan, kontainer akan mengalir. Untuk tiba di Termez saja mereka sudah menghabiskan banyak uang.

Beberapa hari lalu saya ikut rombongan sebuah NGO mencari gudang untuk menempatkan bantuan yang mereka miliki. Sebelumnya mereka mengunjungi kantor PBB. Maksudnya ingin dapat informasi tentang kapasitas gudang yang dimiliki PBB. Kalau mungkin, bisa nebeng.

Di kantor PBB mereka tidak diijinkan masuk. Satu regu tentara siap siaga di depan gerbang. Satu-satunya informasi yang mereka terima, gudang PBB tidak bisa dipakai pihak lain.

Seorang calo menawarkan kepada mereka sebuah gudang tua di Jakurgan, sedikit di luar Termez. Ketiga orang berkebangsaan Perancis ini memutuskan untuk melihat dahulu.

Jakurgan sebuah desa kecil. Letaknya sekitar 35 kilometer dari Termez. Desa ini dikelilingi gurun dan ladang kapas. Nah, gudang tua yang ditawarkan sang calo berada di sisi yang berbatasan dengan gurun.

Setelah melihat gudang, mereka menggeleng-gelengkan kepala. Tidak menyangka kondisi gudang yang ditawarkan separah itu. Mereka harus menghabiskan banyak uang hanya untuk memugar gedung itu. “Bisa-bisa biaya operasional kami habis hanya untuk menambal atap gudang yang bocor,” kata salah seorang dari mereka.

Si calo belum mau menyerah. Ada rumah yang bisa dijadikan kantor sekaligus tempat tinggal di seberang gudang, bujuknya. Ketiga aktivis NGO ini mengikuti langkah si calo.

Rumah itu punya tiga kamar, dapur dan sebuah ruang tamu. Pekarangannya luas, bisa dipakai buat memarkir tiga mobil. Halaman belakangnya juga lumayan luas, bisa dipakai untuk menimbun beberapa koli barang yang tidak tertampung di gudang.

“Mana kakus?” seorang dari aktivis itu bertanya. Kalau kakus ada di depan, dekat tempat parkir. Tidak ada kran air. Sebelum buang air besar mesti bawa air di ember kecil buar cebok, si calo menjelaskan. Sebenarnya si aktivis kaget mendengar jawaban itu. Tapi basa basi pergaulan mengharuskannya tetap tersenyum.

Dia melangkah menuju kakus. Ada dua pintu bersebelahan. Pintu pertama dibuka. Mau busuk menyerang hidung mancungnya. Setelah bau busuk, lalat berteberangan ke luar.

Yang disebut sebagai kakus itu adalah susunan papan berbanjar di atas sebuah lubang besar. Di tengah susunan papan itu dibuat lubang yang lebih kecil. Nah, kalau mau buang hajat tinggal jongkok persis di atas lubang kecil itu.

Basa basi tidak berlaku lagi. Si aktivis NGO balik kanan. Terus terang, dia mengaku tidak bisa tinggal di tempat ini. Rombongan kembali ke Termez.

Mereka menyewa sebuah rumah berlantai dua di pusat kota. Harganya, 300 dolar Amerika per bulan. Rumah itu hanya cukup dijadikan kantor dan tempat tinggal selama menunggu keputusan kapan jembatan sungai Amu Darya dibuka.

Sebelum ditempati, mereka menghabiskan ratusan dolar Amerika untuk memperbaiki instalasi listrik, sistem pemanas ruangan, kamar mandi, genteng dan sebagainya di rumah yang, saya kira, juga tua itu.[t]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s