1105 (ii)
KEHIDUPAN di muka bumi berubah setelah Menara WTC di New York rata dengan bumi dan Gedung Pentagon di Washington hancur berantakan.

Dalam waktu singkat rakyat Amerika menjadi sekumpulan orang paranoid yang merasa keselamatan dirinya terancam setiap detik. Sementara orang-orang Islam dan berwajah Arab dihantui cap terorisme dan dijadikan kambing hitam.

Tapi kehidupan tidak hanya berubah di Negeri Paman Sam, atau di Afghanistan yang dibombardir Amerika. Kehidupan juga berubah di belahan bumi lain. Isinya, ketakutan dan kebencian.

Dari kawan-kawan wartawan asing di Termez saya mengumpulkan beberapa cerita mengenai perubahan yang tidak mengenakkan itu.

Beberapa hari setelah peristiwa 11 September seorang koresponden CNN berkewarganegaraan Uzbekistan, Dilfulza mendapat calling visa ke Amerika. Tanggal 27 September dia ke Kedutaan AS di Tashkent untuk mengambil visa itu. Dia kira semuanya akan beres-beres saja.

Calling visa-nya ditolak. Seorang wanita staf kedutaan berkewarganegaraan Amerika dengan ringan berkata, “Kami tidak bisa membiarkan Anda ke Amerika. Dokumen dan wajah Anda terlihat mencurigakan.”

Wajah yang mencurigakan? Tidak adakah alasan lain yang lebih cerdas dari itu? “Come on, alasan seperti itu cuma untuk anak bayi,” katanya jengkel.

Seorang wartawati freelance asal Norwegia, Ragnhild Kjetland punya cerita lain.
Beberapa tetangga Ragnhild yang memiliki wajah Arab ditahan polisi berhari-hari. Penangkapan itu berawal dari perkelahian di sebuah restoran. Sampai sekarang tidak diketahui ujung pangkalnya.

Nah, di dalam tahanan polisi mengajukan pertanyaan yang sama setiap hari, “Apakah Anda Taliban? Apakah Anda Al Qaeda?”

Tingkah polisi ini berlebihan dan memuakkan. Pasalnya kebanyakan orang bertampang Arab itu sudah berpuluh-puluh tahun menetap di Norwegia. Mereka beranak cucu, memiliki pekerjaan yang baik. Mereka lebih merasa sebagai orang Norwegia dari pada sebagai orang dari jazirah Arab.

Itu tuduhan tolol. Polisi sendiri tidak tahu apa itu Taliban dan Al Qaaeda. Semua yang tidak berambut pirang dan tidak berkulit putih disebut keturunan Arab. Dan keturunan Arab pasti punya hubungan dengan Taliban atau Osama bin Laden. Dan teroris.

Sebelum peristiwa 11 September di Italia semua warga punya hak menolak panggilan dan penggeledahan yang dilakukan polisi tanpa alasan yang jelas. Tetapi sekarang tidak lagi.

Rumah seorang wartawan dari Milan, Italia, Roberto di Caro pernah diacak-acak polisi. Semua surat yang pernah diterimanya dibongkar dan teleponnya di blokir. Semua nomor telepon yang pernah masuk ke nomor telepon Roberto diperiksa. Begitu juga nomor telepon yang pernah dihubunginya.

Tadinya Roberto berang bukan kepalang. Polisi yang menggeledah rumahnya hanya bicara singkat, “Kami sedang mencari teroris dan anthrax.” Roberto tidak jadi marah. Laki-laki berusia 48 tahun ini tertawa tergelak-gelak.

Sikap anti Amerika di Turki, khususnya Istambul, semakin hari bertambah besar. Kebencian mereka atas kesombongan dan sikap besar kepala Amerika dipicu pula oleh ketergantungan pemerintah Turki kepada Amerika.

“Pemerintah kami adalah juru bicara yang baik bagi Amerika. Segera setelah Gedung Putih menggelar jumpa pers, pemerintah kami tidak mau kalah. Mereka juga menggelar jumpa pers. Isinya dukungan penuh atas semua langkah politik Amerika,” kata fotografer dari Istambul, Mehmet Gulbiz.[t]

About these ads