TERMEZ terletak di sisi utara Sungai Amu Darya yang memisahkan ibukota Provinsi Surkhandariyah itu dengan Hairatan, Afghanistan, di sisi selatan.

Sampai sekarang, arti nama Termez masih kerap diperdebatkan. Ada yang berpendapat nama Termez berasal dari kata dalam bahasa Iran kuno yang berarti tempat persinggahan. Pendapat ini didorong oleh kenyataan bahwa Termez dan Amu Darya yang mengalir di sisinya merupakan titik penting di kawasan itu sepanjang sejarah peradaban manusia.

Ada juga yang mengatakan bahwa Termez berasal dari bahasa Sansekerta, taramato, yang berarti tepi sungai. Pendapat lain mengatakan Termez berasal dari bahasa Yunani, thermos, yang berarti panas.

Ketika saya berkunjung ke Termez, pemerintah dan masyarakat kota itu tengah bersiap menyambut perayaan 2.500 kota itu pada April 2002. Berbagai kegiatan digelar untuk menyemarakan peringatan. Spanduk dan umbul-umbul memenuhi kota, mengabarkan kebesaran Termez di masa lalu.

Termez menyaksikan berbagai dinasti yang datang dan pergi. Kota ini sudah dikenal pada masa Emporium Achaemenid atau Emporium Pertama Persia yang didirikan Cyrus Yang Agung di abad ke-6 Sebelum Masehi.

Dua abad kemudian, Aleksander Yang Agung menaklukkan Termez. Pada abad selanjutnya, giliran Demetrius penguasa Emproium Greco-Bactria mengubah nama kota ini menjadi Demetris. Termez juga pernah dinamakan Talimi ketika menjadi pusat pengembangan agama Budha di sekitar awal milenium pertama.

Pada abad ke-5 dan ke-6 Termez dikuasai Dinasti Hephthalite dan Sassanid, sebelum pada abad berikutnya dikuasai dinasti Gokturks.

Termez ditaklukkan Bani Abbasiyah di tahun 705, dan sejak itu mencapai masa keemasan serta menjadi pusat perdagangan di kawasan Asia Tengah.

Di tahun 1220 Jenghis Khan dari Mongolia menaklukkan Termez dalam serangan selama dua hari tanpa henti. Di paruh kedua abad ke-13 Amir Timur yang berkuasa di Transoxiana dan Khorasan membangun kembali Termez. Kali ini pusat kota yang dikenal sebagai Termez Baru dibangun lebih dekat ke Sungai Amu Darya.

Setelah Dinasti Timurid berakhir, pengaruh Termez mulai berkurang, hingga pada paruh kedua abad ke-18 kota itu benar-benar dilupakan. Dari sebuah kota, Termez menyusut menjadi dua pemukiman, Salavat dan Pattagissar.

Di penghujung abad ke-19, Keemiran Bukhara menyerahkan Pattagissar kepada Kerajaan Rusia. Setelah Kerajaan Rusia dibubarkan Revolusi Bolshevik, pemerintahan Uni Soviet di tahun 1928 kembali membangun kota itu dan mengembalikan nama lama yang dimilikinya, Termez.

Ketika Uni Soviet bersiap-siap menginvasi Afghanistan di akhir era 1970an, Termez disulap menjadi kota modern, dilengkapi pangkalan militer, bandara, dan jaringan rel kereta api yang menyatukan semua negeri di Asia Tengah yang berada di bawah kekuasaan Uni Soviet. Di tahun 1982 sebuah jembatan dibangun melintasi Amu Darya untuk menghubungkan Termez dan Hairatan. Dengan jembatan ini pula cengkeraman Uni Soviet di Afghanistan menjadi lebih kuat.

Di bulan Februari 1979, Jembatan Persahabatan ini menjadi salah satu pintu yang digunakan Tentara Merah ketika menarik diri dari Afghanistan.

Ada dua laki-laki terkenal dari Termez yang hidup pada masa yang sama di abad ke-9. Pertama adalah Imam Al Tarmizi yang di kenal sebagai salah seorang perawi hadis-hadis Nabi Muhammad SAW.

Imam Tarmizi yang punya nama asli Abu Isa Muḥammad ibn Isa As Sulami ad Darir Al Bughi At Tirmidhi lahir pada tahun 824 dan meninggal pada tahun 892. Karyanya yang terkenal adalah Al Jami’ Al Shahih, yang merupakan satu dari enam kumpulan hadis Rasul Muhammad dalam tradisi Suni.

Tokoh kedua, adalah seorang sufi bernama Hakim Al Tarmizi yang membangun kembali Termez dan membesarkan pengaruh Islam di kota itu. Karena peranan yang begitu besar terhadap pembangunan kembali Termez, Abu Abdullah Muḥammad ibn Ali Al Ḥakim Al Tirmidhi Al Ḥanafi alias Hakim Tarmizi diagungkan masyarakat Termez dan diberi nama kehormatan Termez Ota atau Bapak Termez.

Hakim Tarmizi disebutkan meninggal dunia pada tahun 869. Makamnya masih terawat dengan baik, dan kerap dikunjungi masyarakat setempat dan turis yang singgah di Termez.

Di luar kedua Tarmizi itu, ada tokoh lain dari Termez yang cukup terkenal. Dia adalah Said Baraka, seorang filsuf yang sangat religius. Dia juga merupakan guru dari Amir Timur, pendiri Dinasti Timurid dan penguasa Asia Tengah di abad ke-14 hingga awal abad ke-15.

***

Seorang pengusaha lokal, Alim Jonaka, mengajak saya mengunjungi makam Termez Ota. Makam itu terletak di bagian dalam sebuah masjid berukuran kecil, persis di tepi Sungai Amu Darya. Mesjid tua itu dikelilingi rimbunan tanaman khas negeri empat musim.

Ketika kami tiba, puluhan pekerja tengah menata taman dan jalan menuju ke kompleks mesjid. Mereka menghentikan pekerjaannya dan menganggukkan kepala sambil meletakkan telapak tangan kanan telungkup di dada kiri. Lalu, “Assalamualaikum.” Ini cara orang Uzbek menyapa.

Alim Jonaka membawa saya masuk melalui pintu utama masjid. Kami tidak bisa segera menuju mihrab. Seorang Mullah tengah mengaji di pojok kiri bagian dalam. Kami menunggu di tempat duduk yang merapat ke dinding. Selesai mengaji, sang Mullah meminta saya dan Alim Jonaka mendekat. Dia juga mempersilakan saya mendekati makam Hakim at Tarmizi.

Setelah menziarahi makam Hakim Tarmizi, kami ke bagian belakang masjid. Dua lapis pagar kawat berduri terbentang memanjang dari kanan ke kiri.

“Kalau Anda tidak bisa melihat sungai Amu Darya dari jembatan, dari sini Anda bisa melihat sepuas hati,” bisik Alim Jonaka.

Ia mengajak saya berjalan mendekati pagar itu. “Tetapi jangan disentuh, ada listriknya.”

Saat kami menyaksikan aliran Sungai Amu Darya, dari arah kiri, di seberang pagar, muncul seorang tentara Uzbekistan dengan sebuah Automat Kalashnikov yang disandang di bahu kiri. Tangan kanan sang tentara berkumis itu menggenggam sebuah HT.

Tak lama seorang tentara lagi muncul di atas bukit tandus itu. Juga menenteng Kalashnikov, kali ini dalam posisi siap siaga.

Saya mengalihkan pandangan ke kanan, tak jauh dari tempat saya berdiri mengalir tenang Sungai Amu Darya yang beberapa minggu ini menjadi pembicaraan banyak orang. Sebuah sungai yang menyimpan rahasia hubungan politik Uzbekistan dan Afghanistan.

Daratan di seberang sungai adalah wilayah Afghanistan, sebuah hamparan lapangan rumput yang terlihat lebih hijau.

Saya bergeser semakin ke kanan agar bisa melihat semakin jelas daratan Afghanistan. Si tentara kedua yang datang belakangan juga bergeser mengikuti arah gerakan saya.

***

Kini kita menyebutnya Amu Darya. Tetapi di masa lalu, dia memiliki sejumlah nama mengikuti peradaban manusia yang berkuasa di atasnya.

Dalam bahasa Latin sungai sepanjang 2.400 kilometer yang mengalir dari Pegunungan Pamir di selatan menuju Laut Aral di utara itu diberi nama Oxus. Sementara dalam bahasa Sansekerta, namanya adalah Vaksu. Dalam teks Avestan yang digunakan pemeluk agama Zoroaster di Iran kuno, Amu Darya disebut Yakhsha.

Dalam perdaban Iran yang lebih muda di era Sassanid, Amu Darya diberi nama Wehrod yang berarti Sungai yang Baik. Sementara dalam catatan bangsa-bangsa Arab dari abad pertengahan sungai ini diberi nama Jayhoun.

Kata Jayhoun ini konon berasal dari Gihon, satu dari empat sungai di Taman Surga seperti tertulis di kitab Genesis berbahasa Hebrew. Tiga sungai lagi yang masuk ke dalam kelompok sungai Taman Surga ini adalah Tigris, Euphrates dan Pishon.

Dari Gihon, kemudian Amu Darya dikenal sebagai Gozan. Dalam sejumlah catatan disebutkan bahwa nama inilah yang paling sering digunakan sejarawan-sejarawan Yunani, Mongol. China, Parsi dan Yahudi juga Afghan di masa lalu.

Adapun kata Amu yang digunakan sebagai nama modern sungai itu berasal dari nama kota Amul yang sekarang dikenal sebagai Turkmenabat di Turkmenistan, sebelah timur Uzbekistan. Sementara Darya adalah berasal dari bahasa Iran yang berarti sungai.[t]