Termez Ota

1103 (i)
TAK terhitung jumlah wartawan yang mengunjungi Termez. Alasannya cuma satu, hendak meliput berita seputar rencana dibukanya kembali jembatan batu berwarna cokelat yang menghubungkan Uzbekistan dan Afghanistan.
Namun, bukan saja pembukaannya tertunda entah sampai kapan, bahkan sampai sekarang (tulisan ini dimuat) tak satu wartawan pun yang bisa mendekati jembatan Amu Darya.

Selain jembatan itu, saya menemukan tiga tempat lain yang terbentang sepanjang garis perbatasan.

Termez Ota
Kota Termez didirikan Hakim At Tarmizi abad ke sembilan. Ketika pertama kali didirikan, pusat Termez terletak delapan kilometer ke arah barat dari pusat kota sekarang. Ketika berkunjung ke sana, saya menemukan puing benteng batu yang mengelilingi sebuah mesjid. Di bagian belakang mesjid itulah Hakim At Tarmizi dikuburkan. Sekarang tempat itu dikenal sebagai Termez Ota atau Ayah Termez.

Jauh sebelum Hakim at Tarmizi mendirikan kota Termez dan mengembangkan ajaran Islam di sana, wilayah sekitar Termez lebih dahulu dipengaruhi ajaran Budha. Beberapa saat sebelum tahun masehi dimulai, guru Aristoteles dari Mesir, Aleksander Agung, juga pernah menyeberangi Sungai Amu Darya yang ketika itu bernama Sungai Oaks.

Saya tidak tahu soal Termez Ota ini sampai seorang pengusaha lokal bernama Alim Jonaka mengajak saya ke sana Kamis lalu (01/11).

Ketika kami tiba, puluhan pekerja tengah menata taman dan jalan menuju ke kompleks mesjid. Mereka menghentikan pekerjaannya dan menganggukkan kepala sambil meletakkan telapak tangan kanan telungkup di dada kiri. Lalu, assalamualaikum. Ini cara orang Uzbek menyapa.

Mesjid tua itu dikelilingi rimbunan tanaman khas negeri empat musim di gurun. Alim Jonaka membawa saya masuk melalui pintu utama mesjid. Kami tidak bisa segera menuju mihrab. Seorang Mullah tengah mengaji di pojok kiri bagian dalam. Kami menunggu di tempat duduk yang merapat ke dinding. Selesai mengaji, Sang Mullah meminta saya dan Alim Jonaka mendekat. Setelah satu dua pertanyaan ringan, dia mempersilakan saya mendekati makam Hakim at Tarmizi. Di Indonesia Hakim At Tarmizi dikenal dengan sebutan Imam At Tarmizi, seorang perawi hadist.

Alim Jonaka membawa saya ke bagian belakang mesjid. Di sana ada dua makam lagi, barangkali makam kerabat Hakim at Tarmizi.

Saya mengalihkan pandangan ke kiri. Dua pagar kawat berduri terbentang memanjang dari kanan ke kiri.

Alim Jonaka berbisik, “Kalau Anda tidak bisa melihat sungai Amu Darya dari jembatan, dari sini Anda bisa melihat sepuas hati.” Ia mengajak saya berjalan mendekati pagar itu.

Saya berdiri selangkah dari pagar. Alim Jonaka berteriak, “Jangan disentuh, ada listriknya.” Cepat, tangan saya berhenti mengulur.

Dari arah kiri, di seberang pagar, tiba-tiba muncul seorang tentara Uzbekistan berseragam loreng cokelat. Sebuah Automat Kalashnikov nyender di bahu kiri. Air mukanya tegang. Tangan kanan tentara berkumis ini menggenggam sebuah HT. Mulutnya sibuk komat-kamit. Kayaknya ia tengah berbicara dengan seorang temannya di pesawat HT lainnya. Saya kira teriakan Alim Jonaka telah mengundang kehadirannya.

Di belakang seradadu yang tidak saya ketahui pangkatnya ini ada sebuah bukit tandus. Angin gurun yang kencang menerbangkan debunya. Lalu, seorang tentara lain muncul di atas bukit tandus itu. Juga menenteng Kalashnikov dalam posisi siap tempur. Busyet deh.

Tentara pertama tadi masih melototi saya. Saya mengalihkan pandangan ke kanan. Hanya beberapa ratus meter dari tempat saya mengalir tenang sungai Amu Darya yang beberapa minggu ini menjadi pembicaraan banyak orang. Sebuah sungai yang menyimpan rahasia hubungan politik Uzbekistan dan Afghanistan.

Daratan di seberang sungai adalah wilayah Afghanistan, terserah siapapun penguasa Afghanistan saat ini. Dari tempat saya berdiri daratan itu terlihat lebih hijau. Tetapi, saya kira dibalik ilalang tersebut tersimpan ketandusan ala gurun yang abadi.

Saya bergeser ke kanan, maksudnya supaya semakin jelas melihat daratan Afghanistan. Si tentara juga bergeser ke arah yang sama. Kali ini HT nya sudah dicantolkan di saku baju sebelah kiri. Seperti temannya yang masih berdiri mengawasi dari atas bukit, Kalashnikovnya dikokang ke depan. Saya kira ia hendak mengatakan, “Jangan macam-macam ya.” Saya cuekin saja itu tentara.

Puas memperhatikan daratan Afghanistan saya balik kanan. Saya baru hendak mengeluarkan kamera dari tas ketika Alim Jonaka berbisik, “Jangan mengambil gambar.”

Saya bilang, saya mau mengambil gambar kubah mesjid yang terbuat dari batu bata tanpa plaster, seperti seluruh dinding mesjid. Tetapi dengan kelihaian seorang wartawan, sempat juga saya bidikkan kamera itu ke arah si tentara. Entahlah apakah hasilnya akan sedramatis kejadian sebenarnya, atau tidak. [t]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s