JUMAT pagi (2/11) pukul 09.00 waktu Termez saya dan dua orang kawan wartawan dari Italia dan Perancis berangkat menuju sebuah desa kecil di dekat garis perbatasan Uzbekistan dan Tajikistan. Kabarnya di desa itu ada keluarga Afghanistan yang menyeberang ke Termez ketika Uni Soviet menduduki Afghanistan.

Iring-iringan mobil tiba di pertigaan yang mengarah ke Jembatan Amu Darya. Kali ini tidak terlihat polisi atau seradadu di pertigaan itu. Tidak seperti saat pertama saya melintasinya. Perjalanan kami teruskan. Sekarang belok kiri, ke arah Dushanbe, ibukota Tajikistan.

Dushanbe tak begitu jauh dari Termez, hanya sekitar 240 kilometer ke arah timur. Menurut pemandu jalan, tempat yang kami tuju berada tak jauh dari perbatasan kedua negara.

Di dekat pertigaan itu ada semacam gedung yang mirip markas tentara. Tank dan kendaraan tempur berbaris rapi dan beberapa tentara terlihat hilir mudik di pelataran depan.

Iring-iringan mobil kami melaju menembus gurun tandus ke arah timurlaut. Di sisi kiri terlihat rel kereta api dari stasiun Termez menuju Dushanbe. Sementara di sebelah kanan, terlihat tiang listrik berbaris rapi mengikuti badan jalan. Beberapa meter di belakang tiang listrik ada dua lapis pagar kawat berduri yang tampaknya sama seperti yang ada di belakang makam Termez Ota. Karena itu, saya kira pagar kawat berduri yang ini pun dialiri listrik.

Angin gurun bertiup dengan kencang ke arah selatan. Debu berteberangan, membatasi pandangan mata.

Setelah satu jam berjalan, mobil kami dihentikan oleh seorang polisi yang mengenakan baju loreng hijau dan topi yang juga berwarna hijau. Kami diminta memasuki pos pemeriksaan di sisi kanan jalam. Menurut penterjemah saya pos itu hanya beberapa kilometer dari perbatasan Uzbekistan dan Tajikistan.

Si polisi menggeleng-gelengkan kepala begitu tahu kami hendak menuju sebuah tempat di dekat perbatasan.

“Tidak bisa,” katanya dalam bahasa Uzbek.

Setelah berkali-kali didesak dia akhirnya berkata, “Saya akan minta ijin atasan saya. Kalau diijinkan, saya akan membuka portal.”

Sambil menapaki anak tangga menuju lantai dua dia menambahkan, “Saya kira tidak akan diijinkan.”

Seorang polisi lain keluar dari ruangan di lantai satu. Dia tersenyum ke arah kami. Dalam bahasa Uzbek dia bertanya kepada penterjemah, siapa kami, dari mana, mau kemana dan sebagainya.

Angin gurun masih bertiup kencang. Dinginnya menusuk tulang. Kulit muka seperti membeku. Kedua tangan saya pun susah digerakkan.

Dari tempat kami berdiri, kami bisa menyaksikan dua lapis pagar kawat berduri, Sungai Amu Darya dan jauh di seberang sana daratan Afghanistan.

Kami masih menunggu ijin yang dijanjikan. Seorang polisi lainnya muncul. Yang satu ini menyapa kami dengan bahasa Inggris yang patah-patah. Katanya, mereka sudah beberapa minggu ditugaskan di pos ini.

Dia dan teman-temannya juga menyaksikan dengan jelas ketika rudal Amerika Serikat menghantam wilayah Afghanistan. Tidak sepicing pun mata mereka terpejam malam ketika serangan mendadak itu terjadi. Sehari sebelum kunjungan kami, mereka juga melihat serangan serupa.

Beberapa ratus meter di sebelah kiri gedung bundar itu ada sebuah menara kecil. Di atasnya seorang tentara berseragam loreng berdiri mengawasi wilayah Afghanistan. Sementara dua orang tentara lainnya berjalan beriringan melintasi pos dengan Kalashnikov menyender di bahu kiri. Mereka menuju menara kecil lainnya beberapa ratus meter di arah timur.

Seekor anjing hitam muncul. Berlari ke sana kemari, di sela kaki seorang polisi. “Siapa namanya,” saya bertanya. “Bim,” jawab polisi yang bisa berbahasa Inggris.

Kata si polisi itu, Bim satu-satunya teman yang bisa menghibur mereka di tengah gurun. Selain Bim ada seekor anjing lagi yang tubuhnya lebih besar, namanya Reg. Tidak seperti temannya, Reg tampaknay kurang suka bergerak di tegah siang yang terang namun menggigit tulang.

Si polisi berkumis yang tadi menghubungi atasannya via telepon muncul dari lantai dua. “Tidak ada ijin untuk melintas bagi wartawan,” katanya singkat.

Setelah berunding sebentar, kami pun sepakat untuk balik kanan ke Termez.

Tampaknya isu keamanan antara Uzbekistan dan Tajikistan menjadi sebab mengapa kami tak bisa bebas berkunjung ke daerah perbatasan. Terlepas dari ketegangan yang sedang terjadi di Afghanistan saat ini, hubungan antara Uzbekistan dan Tajikistan bisa dibilang tak pernah harmonis.

Panas dingin hubungan kedua suku ini diwarisi dari para pendahulu mereka. Suku Uzbek adalah keturunan Turki yang pernah brekuasa di seluruh Asia Tengah. Sementara suku Tajik adalah keturunan Persia yang sebelum kehadiran bangsa Turki lebih dahulu mendiami kawasan di sekitar Amu Darya.

Di masa awal perkembangan Islam di Asia Tengah, orang-orang Uzbek mengikuti aliran Suni yang dikembangkan bangsa Turki. Adapun orang Tajik mengikuti aliran Syiah yang berkembang luas di Iran.

Di masa Emirat Bukhara antara paruh kedua abad ke-18 hingga 1920, Tajikistan dengan sendirinya berada di bawah kekuasaan Uzbekistan. Emirat Bukhara meliputi kawasan yang terbentang antara Amu Darya hingga Syr Darya yang juga dikenal sebagai Tranzoxiana.

Tahun 1918 Uni Soviet menguasai semua negeri di Asia Tengah dan mendirikan Republik Sosialis Soviet Turkestan yang meliputi Uzbekistan, Kazakhstan, Turkmenistan, Kyrgyzstan dan Tajikistan. Ibukota wilayah otonom ini berada di Tashkent yang kini menjadi adalah ibukota Uzbekistan.

Pada tahun 1924 Uni Soviet melepaskan Uzbekitan dari Republik Sosialis Soviet Turkestan, dan menjadikannya Republik Sosialis Soviet Uzbekistan. Lima tahun kemudian giliran Tajikistan menjadi Republik Sosialis Soviet Tajikistan.

Walau sama-sama berada di bawah naungan Uni Soviet untuk kurun waktu yang cukup panjang, yakni tujuh dekade, tidak berarti hubungan antara suku Uzbek dan suku Tajik menjadi lebih harmonis. Bagaimanapun juga ada semacam rivalitas abadi di antara keduanya.

Uzbekistan mendeklarasikan kemerdekaan dari Uni Soviet pada 1 September 1991, beberapa hari setelah kudeta yang dirancang Wakil Presiden Uni Soviet Gennady Yenayev kandas di tengah jalan. Sementara Tajikistan mengumumkan kemerdekaan dari Uni Soviet pada tanggal 9 September.

Kemerdekaan keduanya benar-benar komplet setelah Uni Soviet secara resmi bubar pada tanggal 25 Desember 1991.

Merdeka dari Uni Soviet pun tidak membuat rivalitas keduanya berakhir. Tajikistan mempertahankan aliansi strategis dengan Rusia yang menggantikan Uni Soviet di panggung dunia, sementara Uzbekistan memilih menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat.

Di tahun 1999 Uzbekistan menyebarkan ranjau darat di daerah perbatasan negara itu dengan Tajikistan. Menurut Uzbekistan, ladang ranjau darat itu untuk mencegah penyelundupan obat-obatan terlarang dari Tajikistan, selain untuk menghentikan infiltrasi kelompok fundamentalis Gerakan Islam Uzbekistan.

Tetapi ladang ranjau itu lebih sering memangsa warga sipil Tajikistan. Hingga bulan April lalu, pemerintah Tajikistan mencatat sebanyak 26 warganegara Tajikistan tewas dan 26 lainnya luka-luka. Tajikistan memprotes keras dan meminta Uzbekistan membersihkan daerah perbatasan dari ranjau darat. Tetapi sejauh ini Uzbekistan masih enggan menanggapi protes Tajikistan.

Tampaknya perang dingin Uzbek dan Tajik akan terus berlangsung, entah sampai kapan.[t]