1103 (iv)
JUMAT pagi (02/11) pukul 09.00 waktu Termez saya dan dua orang kawan wartawan dari Italia dan Perancis berangkat menuju sebuah desa kecil di dekat garis perbatasan Tajikistan. Kabarnya di desa itu ada keluarga pengungsi asal Afghanistan yang menyeberang ke Termez ketika perang Rusia dan Afghan. Jadi, jauh sebelum Amerika menyerang Mazar I Sharif.

Iringan mobil tiba di pertigaan yang mengarah ke Jembatan Amu Darya. Aneh, tidak ada polisi atau seradadu di pertigaan itu. Tidak seperti saat pertama saya ke sana. Perjalanan kami teruskan. Sekarang belok kiri, ke arah Dushanbe, Ibu Kota Tajikistan.

Di dekat pertigaan ada markas tentara. Beberapa tank dan kenderaan tempur lainnya di pajang. Sementara para tentara berdiri berkelompok. Saya kaget juga, kalau ternyata gedung-gedung itu masih berfungsi. Tadinya, saya kira hanya reruntuhan saja.

Mobil melaju menembus gurun tandus. Di sisi kiri, memanjang lurus rel kereta api menuju Dushanbe. Sementara di sebelah kanan, tiang listrik berbaris rapi ke arah timur. Beberapa meter dari tiang listrik ada dua pagar kawat duri. Tidak diragukan lagi, ini kawat duri perbatasan. Dan pasti dialiri listrik.

Angin gurun bertiup dengan kencang, ke selatan, ke arah Afghanistan. Debu-debu berteberangan, membatasi pandangan mata.

Hampir satu jam berjalan, kami tiba di Pos Gulbahor, beberapa kilometer dari perbatasan dengan Tajikistan.

Seorang polisi perbatasan berseragam loreng biru muda keluar dari gedung bundar berlantai dua yang dicat hijau di sebelah kanan jalan. Di atas kepala laki-laki berkumis itu menempel topi berwarna hijau.

Kami minta ijin melintasi Pos Gulbahor. Si polisi menggeleng-geleng kepala. “Tidak bisa,” katanya dalam bahasa Uzbek.

Setelah berkali-kali didesak, dia bilang, “Saya akan minta ijin atasan saya. Kalau diijinkan, saya akan membuka portal.” Sambil menapaki tangga menuju lantai dua dia menambahkan, “Saya kira tidak akan diijinkan.”

Seorang temannya muncul. Tidak begitu seram, polisi yang satu ini sering tersenyum. Dalam bahasa Uzbek dia bertanya ke penterjemah, siapa kami, dari mana, mau kemana dan sebagainya.

Angin gurun masih bertiup kencang. Dinginnya menusuk tulang. Kulit muka seperti membeku. Kedua tangan saya pun susah digerakkan. Suhu udara hanya beberapa poin di atas nol derajat celcius.

Dua lapis pagar kawat berduri hanya beberapa meter di belakang gedung ini. Di samping pagar kawat berduri kedua ada jalan setapak. Nah, Sungai Amu Darya yang mengalir tenang persis di pinggir jalan setapak itu. Saya bisa melihat lebih jelas daratan Afghanistan. Beberapa gedung nun di sana dapat dikenali sebagai Hairaton, kota kecil sebelum Mazar I Sharif.

Sebuah truk dengan dua lori penuh kapas melintas pelan dari arah Dushanbe. Portal dibuka. Truk melintas ke arah Termez.

Kami masih menunggu ijin yang dijanjikan. Seorang polisi lainnya muncul. Yang satu ini bisa juga berbahasa Inggris, meskipun patah-patah.

Dari dia kami tahu kalau mereka sudah berminggu-minggu berada di Pos Gulbahor ini. Mereka menyaksikan sendiri api dari roket-roket yang diluncurkan Amerika ke Mazar I Sharif. Tidak sepicing pun mata mereka terpejam malam ketika serangan mendadak itu terjadi. Sehari sebelum kunjungan kami, mereka juga melihat serangan serupa.

Beberapa ratus meter di sebelah kiri gedung bundar ada sebuah menara kecil. Di atasnya seorang tentara berseragam loreng berdiri mengawasi wilayah Afghanistan. Sementara itu dua orang tentara lainnya berjalan beriringan melintasi Pos Gulbahor, dengan Kalashnikov menyender di bahu kiri. Mereka menuju menara kecil lainnya, beberapa kilometer ke arah kanan.

Saya mengeluarkan buku catatan. Bertanya siapa nama ketiga polisi yang menjaga pos itu. Semuanya mengeleng, sambil berkata dalam bahasa Uzbek, “Jangan tulis nama.” Saya mengangkat bahu.

Seekor anjing hitam muncul. Berlari ke sana kemari, di sela kaki seorang polisi. “Siapa namanya,” saya bertanya. “Bim,” jawabnya singkat. Saya tulis di atas buku saya. Si Bim kayaknya tidak mau ambil pusing dengan ketegangan terselubung yang ada di antara tuannya dan kami. Cuek saja, dia terus bermain, melompat seenak hatinya.

Kata si polisi itu, Bim satu-satunya teman yang bisa menghibur mereka di tengah gurun. Selain Bim ada seekor anjing lagi yang tubuhnya lebih besar, namanya Regs. Tidak seperti temannya, Regs malas dan lebih suka tidur siang.

Si polisi berkumis yang tadi menghubungi atasannya via telepon muncul dari lantai dua. “Tidak ada ijin untuk melintas bagi wartawan,” katanya singkat.

Ya sudah. Kami kembali ke Termez, meninggalkan Pos Gulbahor yang terpencil di tengah gurun. [t]

About these ads