1102
DI pojok Jalan At Tarmidzi, jalan utama di kota Termez, ada sebuah kafe kecil yang sering dijadikan tempat berkumpul wartawan asing. Namanya, Kasablanka. Sama seperti kafe-kafe kecil lain di jalan itu, kafe yang berada tepat di seberang Gedung Hokimiyat Provinsi Surkhandariyah ini juga menyajikan makanan khas Uzbekistan. Ada saslik yang mirip sate dan lakman yang persis mie rebus. Tak lupa non, roti keras, bulat dan besar, makanan utama orang-orang di Asia Tengah.

Pemilik kafe ini seorang wanita berusia setengah abad. Ia punya seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Keduanya bekerja di Tashkent. Anak-anaknya ini sering berpergian ke luar negeri. Dari merekalah si Ibu sering mendengar kisah-kisah tentang negara lain. Maka tidak usah heran bila ia open minded dan berwawasan luas

Selama di Termez beberapa kali saya singgah ke kafe Kasablanka. Kafe itu sederhana saja, sebuah rumah berlantai dua. Si Ibu menata meja-meja di halaman kafe. Banyak tamu dengan senang hati memilih duduk di luar.

Ketika saya mengunjungi kafenya, ia banyak bertanya tentang Indonesia. Kedua anaknya tidak pernah menyinggung Indonesia dalam cerita mereka. Baru kali ini ia mendengar sebuah negeri bernama Indonesia.

Puas mendengar kisah tentang Indonesia, si Ibu balik berkisah. Ringan saja, soal kejadian beberapa minggu lalu, ketika Amerika mengempur habis-habisan kota Mazar I Sharif yang berada tak jauh dari kota Termez.

Serangan pertama atas kota Mazar I Sharif terjadi malam hari, si Ibu mengawali ceritanya. Tidak ada yang tahu ada apa yang sebenarnya terjadi. Ledakan keras bertubi-tubi, dan suara mesin pesawat tempur mendengung. Bumi bergoyang. Tidak hanya semenit, melainkan sepanjang malam.

Langit di selatan Termez bagai dihujani ribuan bola api dari neraka yang meluncur dengan kecepatan luar biasa. Sebagian seolah jatuh mendadak dari langit, sebagian lagi melesat seperti entah dari mana. Tak ubahnya pesta kembang api. Tetapi ini sangat berbahaya.

Sempat terlintas di benak si Ibu, jangan-jangan pasukan Rusia yang selama beberapa tahun terakhir berada di wilayah selatan Tajikistan menyerang Uzbekistan dari Termez. Suara ledakan keras yang menyentak gendang telinga terus menerus terdengar.

Seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang utama. Kafe ditutup. Bukan hanya Jalan At Tarmidzi, seluruh jalan di kota Termez lengang.  Termez mendadak jadi kota mati.

Menjelang subuh, serangan  berhenti. Penduduk kota baru berani keluar rumah setelah matahari bersinar penuh. Semua benda yang ada di luar rumah tertutupi oleh debu. Pohon-pohon, bangku-bangku kafe, dan permukaan jalan.

Puluhan serdadu Uzbekistan berkeliaran ke sana ke mari. Begitu juga polisi. Dalam waktu singkat pos penjagaan di sudut-sudut kota didirikan.

Dari televisi mereka mengetahui bahwa kota Mazar I Sharif dan beberapa kota lain di Afghanistan dihujani ratusan bom oleh Amerika.

Saya membayangkan puing-puing rumah dari tanah lempung milik penduduk sipil Afghanistan, anak kecil yang menangis mencari orang tuanya, dan perempuan yang menangisi kematian suaminya.

“Saya pernah mengalami perang. Hanya satu yang saya ingat, dalam perang orang-orang tak berdosa menjadi korban,” kata si ibu.

Setelah malam itu, entah berapa kali lagi dia dan penduduk Termez harus mendengar ledakkan bom dan raungan mesin pesawat tempur Amerika yang memborbardir Mazar I Sharif.[t]

About these ads