RELAWAN kemanusiaan dari berbagai organisasi kemanusiaan internasional yang berada di Termez menyesalkan sikap petugas PBB di garis perbatasan itu. Perjalanan mereka ke Mazar I Sharif terhambat.

Mereka punya alasan kuat untuk menggerutu. Pasalnya kantor PBB di Termez mengaku tidak bisa memberikan keterangan apapun mengenai penempatan bahan bantuan dari beberapa LSM yang sudah berdatangan di Termez sejak pekan lalu.

“Entahlah apa yang dilakukan staf PBB di kantor ini. Tidak ada satu keputusan pun yang bisa mereka berikan. Yang kami butuhkan hanya keterangan teknis, bukan keterangan politis,” gerutu seorang aktivis berkebangsaan Inggris.

Keterangan teknis yang dimaksud sang aktivis itu berkaitan dengan daya tampung gudang, jarak tempuh dari gudang ke jembatan perbatasan, alat angkut yang digunakan dan sebagainya.

Yang lebih mengesalkan lagi, lanjut aktivis LSM ZOA Refugee berkebangsaan Inggris itu, mereka di suruh mencari sendiri tempat yang bisa dipakai sebagai gudang bantuan kemanusiaan.

“Sebenarnya lebih tepat bila disebutkan kami dibiarkan berkeliaran di Termez tanpa tujuan. Kalau begini caranya bantuan yang sudah sampai bisa balik kanan ke negara donor,” lanjutnya.

Petugas di kantor PBB di Jalan Margistral, sekitar 10 kilometer dari pusat kota Termez ke arah Dushanbe ibu kota Tajikistan, mengaku sedang menunggu perintah dari Tashkent. Begitu ada perintah yang jelas, maka mereka akan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Mazar I Sharif.

Seorang staf PBB menolak memberi keterangan soal rencana PBB menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Mazar I Sharif di Afghanistan.

“Kami juga bingung, apa yang akan terjadi sebenarnya. Kami hanya menunggu saja perintah dari Tashkent. Ini politik tingkat tinggi, Bung. Jembatan itu bisa saja dibuka besok, tetapi bisa juga bulan depan, atau tidak dibuka sama sekali,” kata Anwar, staf PBB itu.

Menurut Anwar, saat ini PBB sedang memikirkan cara menyalurkan bahan bantuan yang sudah numpuk di Termez. Kalau tidak bisa melalui jembatan, kemungkinan pengiriman bantuan ke Mazar I Sharif akan dilakukan kapal, menyusuri sungai Amu Darya. Untuk itu, PBB sudah membuat semacam pelabuhan darurat.

Tetapi ketika ditanya dimana letak persis pelabuhan itu, Anwar tutup mulut. Tidak sembarangan orang bisa pergi ke sana, kata dia beralasan.

Perasaan kesal juga disampaikan Kim, aktivis LSM Medicine Sans Frontier yang berkantor di Tashkent. Sudah seminggu ini menurut Kim mereka setiap hari keliling kota Termez untuk mencari gudang penyimpanan barang. Selain itu mereka juga berusaha menemukan dimana sebenarnya letak pelabuhan yang sudah disiapkan PBB untuk mengirimkan bantuan ke Afghanistan.

“Jangan-jangan PBB besar mulut doang. Supaya tidak kehilangan muka mereka bilang sudah membuat pelabuhan untuk mengantisipasi kemungkinan tidak dibukanya jembatan Amu Darya,” begitu kira-kira kata laki-laki berkebangsaan Belgia ini.[t]