SAMPAI malam ini (29/10) pemerintah Uzbekistan belum juga membuka perbatasan mereka dengan Afghanistan. Apa sebabnya?

Aktivis berbagai organisasi kemanusiaan internasional yang sudah berada di Termez menduga pemerintah Uzbekistan mulai khawatir.

Sejak beberapa hari ini pasukan Taliban disebutkan kembali menguasai Mazar I Sharif dan memukul mundur pasukan Aliansi Utara dari kota paling utara di Afghanistan itu.

Kabar yang beredar di kalangan aktivis kemanusiaan tidak menyebutkan kapan persisnya Taliban melancarkan serangan. Namun yang jelas, lanjut kabar burung itu, kini pasukan Taliban telah memagari kota Mazhar I Sharif dengan tank tempur. Di sisi lain, ada kekhawatiran pihak Amerika sengaja menyembunyikan fakta itu dengan terus menerus mengumbar cerita keberhasilan serangan mereka atas kota Kabul.

Dalam situasi seperti ini, bagi pemerintah Uzbekistan membuka pintu perbatasan dengan Afghanistan bisa jadi tindakan bunuh diri. Bukan tidak mungkin pasukan Taliban malah merengsek masuk dan menduduki Termez.

Pemerintah Uzbekistan sepertinya lebih takut pada pasukan Taliban yang berada di Mazar I Sharif daripada pasukan Amerika yang sudah beberapa tahun ini berdiam di pangkalan militer mereka.

Presiden Islam Karimov menolak permintaan Commander of US Central Command Tommy Frank yang secara khusus menemuinya dua hari lalu (28/10). Sebaliknya, Islam Karimov mendesak Amerika menyelesaikan masalah Afghanistan ini secara damai. Jangan ada bom lagi. Apalagi bom yang meselet.

Ketika saya bertanya mengenai sentimen yang berkembang terkait rencana pembukaan jembatan Amu Darya itu, Khokimiyat atau Walikota Termez Choriyv Abdurahim memberikan jawaban senada dengan Islam Karimov.

“Uzbekistan tidak akan membiarkan Termez dijadikan pintu masuk bagi pasukan Amerika Serikat ke Mazar I Sharif. Uzbekistan hanya akan membuka jembatan Amu Darya bila keadaan di Mazar I Sharif sudah aman dengan sendirinya,” jawabnya.

“Apa alasan untuk menunda pembukaan pintu perbatasan itu berkaitan dengan kembalinya pasukan Taliban ke Mazar I Sharif?” tanya saya.

Abdurahim mengaku tidak tahu soal itu.

“Kami hidup damai. Kami menginginkan agar perbatasan itu dibuka, agar kami bisa mengembangkan daerah ini dan berhubungan dengan wilayah lain di selatan. Tapi untuk itu kami tidak akan mengijinkan wilayah ini dipakai pasukan militer asing,” kata Abdurahim di kantornya jalan At Tarmidzi.

Saya juga bertanya, apakah benar Pasukan Divisi Sepuluh Pegunungan Amerika sudah berada di Termez dan bersiap-siap memasuki Afghanistan.

“Saya tidak akan mengijinkan pasukan Amerika mangkal di Termez,” kata Walikota Abdurahim lagi.[t]