1030 (ii)
DI kota-kota besar Pakistan seperti Islamabad, Peshawar dan Queta, ratusan ribu masyarakat menentang invasi militer sepihak yang dilakukan Amerika dan sekutunya ke wilayah Afghanistan. Bukan hanya karena dilakukan tanpa alasan yang kuat, serangan membabi buta keroyokan itu malah lebih sering salah sasaran. Sejauh ini yang menjadi korban adalah warga sipil dan yang hancur adalah fasilitas umum.

Anda tidak akan menemukan reaksi seperti itu di Uzbekistan. Tidak di Tashkent, ibu kota Uzbekistan, dan tidak juga di Termez, kota paling selatan yang berbatasan langsung dengan Afghanistan. Pasalnya, warga Uzbekistan sudah terlanjur menganggap Afghanistan sebagai musuh mereka. Ketika Uzbekistan masih menjadi bagian Uni Soviet, tak terhitung jumlah warga Uzbeksitan dalam Tentara Merah yang tewas melawan pasukan Afghanistan.

Beberapa bekas serdadu Tentara Merah mengaku terpaksa melawan pasukan Afghanistan. Kalau saat itu bisa memilih, mereka justru ingin berperang melawan Soviet untuk memperoleh kemerdekaan.

Namun sampai sekarang sikap terpaksa tutup mulut itu masih menjadi ciri khas warga Uzbekistan.

Lain halnya kalau sudah bicara soal solidaritas antar umat Islam. Orang Islam di Uzbekistan tidak mau ketinggalan. Mereka juga aktif membela nasib orang Islam yang teraniaya di tempat lain, termasuk di Afghanistan.

Orang Uzbekistan menentang rencana Amerika terus menyerang Afghanistan kendati di bulan Ramadhan.

“Kalau Amerika terus melakukan hal itu (menyerang Afghanistan) di bulan puasa, sama saja artinya menyerang kehormatan umat Islam. Terserah mereka punya kepentingan apa dengan Taliban, yang jelas Amerika harus menghormati agama Islam. Seperti kita menghormati mereka,” tutur seorang dosen sebuah perguruan tinggi pemerintah.

Kalau itu terjadi, berarti Amerika mengobarkan perang terhadap agama Islam, tambahnya.

Seperti diberitakan Washington Post (30/10) Menteri Pertahanan Amerika Donald H. Rumsfeld menolak permintaan Presiden Pakistan Pervez Musharraf untuk menghentikan serangan selama bulan Ramadhan.

“Pasalnya mereka (Taliban) telah membunuh ribuan warga Amerika, dan juga warga negara lain. Kami punya kewajiban melindungi warga Amerika,” kata Rumsfeld beralasan.

Nah, menyikapi komentar Rumsfeld itu, si dosen yang tidak ingin namanya disebutkan mengatakan sampai sekarang tidak ada bukti meyakinkan soal keterlibatan Osama bin Laden dan Taliban dalam serangan 11 September lalu.

“Kalau Amerika mengatakan punya kewajiban melindungi warga negaranya, saya juga ingin menegaskan bahwa sebagai umat Islam saya juga punya kewajiban melindungi saudara saya sesama Muslim dari aniaya Amerika,” tegasnya lagi.[t]

About these ads