Menuju ke Termez

1030 (i)
SAYA harus segera ke Termez. Utusan khusus Sekjen PBB Kenzo Oshima dan Presiden Islam Karimov sudah sepakat untuk membuka kembali jembatan Amu Darya. Jembatan yang ditutup sejak akhir 1980-an itu mau dipakai untuk mengalirkan bantuan kemanusiaan ke kota paling utara di Afghanistan, Mazar I Sharif.

Namun beberapa kalangan mengkhawatirkan pasukan Amerika pun akan memakai jembatan itu untuk merengsek ke Afghanistan.

Kalau jembatan itu dibuka, peluang saya masuk ke wilayah utara Afghanistan semakin lebar.

Yakovlev 40 buatan Rusia yang membawa saya ke selatan mulai bergerak. Mesin pesawat berkapasitas 36 penumpang ini menderu halus menyusuri landas pacu. Di luar sana, hujan rintik membasahi kota Tashkent dan kabut tipis menyapu miris.

Pesawat belok kiri. Saya memperhatikan satu persatu pesawat milik Uzbekistan Airways yang sedang bersender. Pandangan mata saya berhenti pada sebuah pesawat abu-abu tua berbadan gemuk yang parkir di ujung pengkolan. Di sisi kiri badan pesawat berturbin ganda di masing-masing sayapnya itu tertulis jelas dengan huruf hitam, US Air Force. Bendera Amerika tergambar di sayap belakang. Jelas ini pesawat militer. “Mereka memang berada di sini,” batin saya beberapa detik sebelum pesawat lepas landas.

Setelah dua jam terbang rendah membelah langit Uzbekistan, kota Termez mulai terlihat mengganti hamparan gurun pasir di bawah sana. Perkebunan kapas dan deru debu menghiasi kota berusia 2.500 tahun itu.

Turun dari pesawat, saya harus berurusan dengan pihak keamanan. Passport saya ditahan. Kata penterjemah saya itu hal biasa yang dilakukan pada setiap orang asing. Setelah petugas berseragam hijau-hijau mencatat ini itu dalam karakter Rusia yang tidak saya mengerti, passport saya dikembalikan.

Seperti di Tashkent, mencari taxi di Termez pun bukan pekerjaan sulit. Di balik pagar bandara beberapa laki-laki siap sedia dengan mobil mereka. Ada Nexia dan Tico yang buatan Uzdaewoo, perusahaan patungan Uzbekistan dengan Daewoo Korea Selatan. Ada juga mobil Lada, peninggalan peradaban Rusia di Uzbekistan. Tanpa alasan khusus, saya memilih Lada.

Di tengah jalan saya minta sopir membawa saya ke garis perbatasan. “Itu tempat terlarang,” jawabnya. Sinar matanya takut-takut. Saya katakan kepada supir taksi itu kalau saya cuma mau mendekati jembatan Amu Darya. Tidak lebih.
Setelah sepakat dengan ongkos tambahan yang harus saya bayar, ia memutar mobil, menyusuri Jalan Qirq Yilligi atau Jalan 40 Tahun.

Rumah-rumah penduduk yang terbuat dari tanah lempung berjejer sepanjang jalan. Saya tidak tahu pasti, tapi saya kira ukurannya sedang. Tembok yang mengelilingi rumah-rumah itu kebanyakan dibalur cet hijau. Ranting-ranting pohon anggur terburai di teras rumah, di atas sangkar. Sayang sedang musim gugur. Di musim semi buah anggur pasti berjuntai-juntai ke bawah, mempercantik rumah.

Termez adalah kota militer, makanya tidak heran kalau serdadu Uzbekistan juga seliweran di sisi jalan. Siaga dengan Automat Kalashnikov di tangan.

“Itu Hairaton, milik Afghanistan,” sopir taxi menunjuk beberapa gedung di kejauhan, sekitar tiga kilometer. Mazar I Sharif hanya berjarak empat kilometer dari Hairotan, lanjutnya.

Menurut si sopir taxi ini, sampai beberapa malam sebelumnya penduduk kota Temez masih melihat ratusan misil Amerika menghantam Kota Mazar I Sharif. Suara ledakannya terdengar sangat jelas.
“Kami khawatir bom Amerika ini sampai ke Termez,” sambil sesekali menatap Hairaton.

Kami tiba di sebuah pertigaan yang agak menanjak. Taxi belok kanan. Dua orang polisi, seorang perwira dan asistennya, menghentikan kami. Sementara itu, di sisi kiri jalan empat orang serdadu bersandar di tembok jalan.

Perwira polisi itu bernama Dilmurod. “Mau kemana,” tanyanya singkat setelah saya turun. “Ke jembatan,” jawab penterjemah saya mewakili. Mata saya menatap tiang jembatan batu sejauh satu kilometer di depan.

Si perwira suku Uzbek ini menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak boleh,” gumamnya. Dia bertanya apakah saya memiliki surat ijin dari Kementerian Luar Negeri di Tashkent. Saya katakan kepadanya kalau saya punya kartu akreditasi yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri. Konon, orang asing yang memiliki kartu akreditasi itu punya hak yang sama dengan warga Uzbekistan.

Dia mengangguk, “Saya mengerti,” katanya. “Tetapi tempat ini tidak dibenarkan untuk wartawan,” lanjutnya.

Saya mengeluarkan kamera. Meminta penterjemah saya mengambil foto saya dengan latar belakang jembatan Amu Darya. Si perwira ngomong lagi. “Tidak boleh mengambil foto di sini,” katanya masih dalam bahasa Uzbek.

Saya coba meminta pengertiannya. Saya katakan jauh-jauh datang dari Indonesia, saya hanya ingin melihat garis perbatasan ini. Masa mengambil foto saja tidak boleh. Petugas itu menggeleng. Kali ini lebih tegas.

Setelah itu perwira Dilmurod balik kanan. Giliran si sopir taxi yang dibentaknya. Perwira menganggap sopir taxi telah melanggar aturan. Jembatan perbatasan diharamkan bagi wartawan, apalagi wartawan asing. Seharusnya si sopir tidak membawa saya ke sana.

“Anda jangan cari kambing hitam. Saya yang memintanya ke sini. Ini antara saya dan Anda,” kata saya. Si perwira tidak menjawab. Tapi SIM si sopir ditahannya. Dia meminta si sopir kembali ke tempat itu setelah mengantarkan saya di hotel.[t]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s