SAYA harus segera ke Termez. Utusan khusus Sekjen PBB Kenzo Oshima dan Presiden Islam Karimov sudah sepakat untuk membuka kembali jembatan yang melintasi Sungai Amu Darya untuk menghubungkan Uzbekistan dan Afghanistan.

Jembatan itu akan digunakan untuk mengalirkan bantuan kemanusiaan dari Termez ke kota paling utara di Afghanistan, Mazar I Sharif. Beberapa kalangan mengkhawatirkan pasukan Amerika Serikat juga akan menggunakan jembatan itu untuk memasuki wilayah Afghanistan. Di sisi lain, kalau jembatan itu dibuka, peluang saya masuk ke wilayah utara Afghanistan semakin lebar.

Jembatan yang sedang kita bicarakan ini selesai dibangun Uni Soviet pada 1982 dan diberi nama Jembatan Persahabatan. Dengan panjang 820 meter dan lebar 15 meter, jembatan ini memiliki jalur rel kereta api di sisi timur. Pada Februari 1989 Letjen Boris V. Gromov memimpin pasukan terakhir Uni Soviet yang meninggalkan Afghanistan melalui jembatan ini.

***

Yakovlev 40 buatan Rusia yang membawa saya ke selatan mulai bergerak. Mesin pesawat berkapasitas 36 penumpang ini menderu halus menyusuri landas pacu. Di luar sana, hujan rintik dan kabut tipis yang menutup bandara di Tashkent.

Setelah dua jam terbang rendah membelah langit Uzbekistan, kota Termez mulai terlihat mengganti hamparan gurun pasir dan pegunungan di bawah sana. Perkebunan kapas dan debu menghiasi kota berusia 2.500 tahun itu.

Turun dari pesawat, saya harus berurusan dengan pihak keamanan. Passport saya ditahan. Kata penterjemah saya itu hal biasa yang dilakukan pada setiap orang asing. Setelah petugas berseragam hijau-hijau mencatat ini dan itu dalam karakter Cyrillic Rusia yang tidak saya mengerti, passport saya dikembalikan.

Seperti di Tashkent, mencari taksi di Termez pun bukan pekerjaan sulit. Di balik pagar bandara beberapa laki-laki siap sedia dengan mobil mereka. Ada Nexia dan Tico yang buatan Uzdaewoo, perusahaan patungan Uzbekistan dengan Daewoo Korea Selatan. Ada juga mobil Lada, peninggalan peradaban Rusia di Uzbekistan. Saya memilih Lada, mencoba merasakan sisa-sisa masa keemasan Uni Soviet di Uzbekistan.

Di tengah jalan saya minta sopir membawa saya ke garis perbatasan di sekitar Jembatan Persahabatan.

“Itu tempat terlarang,” jawabnya.

Sinar matanya takut-takut. Saya katakan kepada supir taksi itu kalau saya cuma mau mendekati jembatan Amu Darya. Tidak lebih.

Setelah sepakat dengan ongkos tambahan yang harus saya bayar, ia memutar mobil, menyusuri Jalan Qirq Yilligi atau Jalan 40 Tahun.

Rumah-rumah penduduk yang terbuat dari tanah lempung berjejer sepanjang jalan.

Tembok yang mengelilingi rumah-rumah itu kebanyakan dibalur cet hijau. Ranting-ranting pohon anggur terburai di teras rumah. Sayang sedang musim gugur. Di musim semi buah anggur pasti berjuntai-juntai ke bawah, mempercantik rumah.

Termez adalah kota militer, makanya tidak heran kalau serdadu Uzbekistan juga berseliweran di sisi jalan. Siaga dengan Automat Kalashnikov di tangan.

“Itu Hairatan, wilayah Afghanistan,” sopir taksi menunjuk beberapa gedung di kejauhan, di seberang Sungai Amu Darya.

Pusat kota Mazar I Sharif masih lebih jauh lagi. Sekitar 102 kilometer ke arah selatan. Mazar I Sharif adalah kota terbesar keempat di Afghanistan dan merupakan ibukota Provinsi Balkh.

Di masa lalu Mazar I Sharif merupakan bagian dari Emporium Khorasan yang terbentang meliputi Balkh dan Herat yang kini merupakan bagian Afghanistan, Mashhad dan Nishapur (di utara Iran kini), Merv dan Nisa (sebelah selatan Turkmenistan kini), serta Bukharan dan Samarkand (wilayah Uzbekistan kini).

Pada tahun 647 M, Khorasan ditaklukkan pasukan Muslim dan menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Bani Umayyah.

Antara abad ke-16 hingga awal abad ke-18 Khorasan terbelah. Dinasti Syiah Safavid berkuasa di bagian utama Khorasan, sementara kawasan timur dikuasai kelompok Suni yang berpusat di Bukhara dan bagian tenggara dikuasai kelompok Suni Mughul.

Dalam Perjanjian Paris 1857 yang menandai berakhirnya Perang Iran-Inggris, Iran sepakat menarik mundur pasukannya dari Herat. Sementara dalam Perjanjian Akhal 1881, Iran menyerahkan bagian utara Khorasan termasuk Merv dan Ashgabat kepada Kekaisaran Rusia.

Kembali ke taksi Lada yang saya tumpangi.

Menurut si sopir taksi, sampai beberapa malam sebelum saya tiba di Termez penduduk kota Temez masih melihat ratusan misil Amerika menghantam Kota Mazar I Sharif. Suara ledakannya terdengar sangat jelas.

“Kami khawatir bom Amerika ini sampai ke Termez,” katanya sambil sesekali melemparkan tatapan ke arah Hairatan.

Kami tiba di sebuah pertigaan yang agak menanjak. Taksi belok kanan. Dua orang polisi menghentikan kami. Sementara di sisi kiri jalan empat orang serdadu bersandar di tembok jalan. Memperhatikan kami dengan tatapan tajam.

Dari nama yang tertulis di seragamnya, saya ketahui polisi itu bernama Dilmurod.

“Mau kemana,” tanyanya singkat setelah saya turun.

“Ke jembatan,” jawab penterjemah saya mewakili.

Mata saya menatap tiang jembatan batu yang sudah di depan mata itu.

Dilmurod menggeleng-gelengkan kepala.

“Tidak boleh,” gumamnya.

Dia bertanya apakah saya memiliki surat ijin dari Kementerian Luar Negeri di Tashkent. Saya katakan kepadanya kalau saya punya kartu akreditasi yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri.

Dia mengangguk, “Saya mengerti,” katanya. “Tetapi tempat ini tidak dibenarkan untuk wartawan,” lanjutnya.

Saya mengeluarkan kamera. Meminta penterjemah saya mengambil foto saya dengan latar belakang jembatan Amu Darya.

Dilmurod melarang lagi. “Tidak boleh mengambil foto di sini,” katanya masih dalam bahasa Uzbek.

Saya coba meminta pengertiannya. Saya katakan jauh-jauh datang dari Indonesia, saya hanya ingin melihat garis perbatasan ini. Masa mengambil foto saja tidak boleh. Dilmurod tetap menggelengkan kepala. Kali ini lebih tegas.

Dilmurod balik kanan. Giliran si sopir taksi yang dibentaknya. Dia menganggap sopir taksi telah melanggar aturan. Jembatan perbatasan diharamkan bagi wartawan, apalagi wartawan asing. Seharusnya si sopir tidak membawa saya ke sana.

“Saya yang memintanya ke sini,” saya mencoba menengahi.

Dilmurod tidak menjawab. Tapi SIM si sopir taksi ditahannya. Dia meminta si sopir kembali ke tempat itu setelah mengantarkan saya di hotel.[t]