Ambon Manise, Ambon Nangise

MENULIS bagian ini, bagaimana kota Ambon yang identik dengan kata manise itu koyak moyak oleh konflik berdarah antar agama, terus terang, bukanlah hal yang mudah. Ada kesedihan yang menyayat hati. Dan belum tersembuhkan.

Masih lekat dalam ingatan, lebih dari dua tahun lalu, tepatnya tanggal 9 Januari 1999, atau 1 Syawal 1420 bagi umat Islam, keceriaan perayaan Idul Fitri terhenti. Dengan sangat tiba-tiba. Kabar duka dibawa angin dari provinsi kepulauan Maluku. Konon, kata angin itu, telah terjadi pembantaian atas orang-orang Islam yang sedang melaksanakan shalat Idul Fitri. Serentak. Pelakunya, harus dikatakan konon, umat Kristiani.

Hanya dalam hitungan jam, aksi saling bantai antara kedua umat agama Samawi itu terjadi. Pertikaian paling berdarah dan paling sadis sepanjang sejarah Indonesia merdeka, setelah aksi saling bantai komunis dan kontra komunis tahun 1965.

Tidak usah heran kalau kemudian berita pembantaian demi pembantaian di Ambon menjadi head line di mana-mana. Tidak hanya di dalam negeri. Media luar negeri pun tak jarang menjadikan gambar-gambar pembantaian di Ambon sebagai cover story-nya. Mengenaskan. Sekaligus memalukan.

Tidak ada angka resmi (yang dapat dipercaya) yang menyebutkan berapa jumlah orang yang tewas sebagai martir. Tetapi, pasti banyak. Sangat banyak. Tidak ada pula angka pasti (yang, sekali lagi, dapat dipercaya) yang menyebutkan berapa ratus ribu jumlah pengungsi. Tetapi pasti, sekali lagi pula, teramat banyak.

Siapa yang harus disalahkan atas peristiwa ini? Orang-orang Kristen kah? Orang-orang Islam kah? Mengapa hal ini terjadi? Apa penyebabanya? Kesenjangan ekonomi kah? Provokasi kah?

Sekian banyak pertanyaan tentang peristiwa ini, jauh dari yang tertera di atas, sampai sekarang tidak terjawab. Siapa yang bisa menjawab? Tidak ada. Tidak pemerintah, yang sampai sekarang masih kelimpungan menghadapi seribu satu masalah. Legitimasi saja hampir-hampir tidak ada.

Bisa jadi, orang-orang yang saling bantai di sana pun tidak bisa menjawabnya. Karena bisa jadi pula, keterlibatan mereka dalam aksi saling bantai dengan rasionalitas yang non sense, tidak masuk akal. Balas dendam, atau perintah illahiah.

Ribuan orang Islam dari pulau Jawa dan wilayah lain di Nusantara berbondong-bondong ke Ambon. Mengibarkan bendera Laskar Jihad. Mengenakan jubah putih dan sorban yang juga putih. Kebanyakan memelihara janggut dan cambang. Niatnya tunggal, membantu saudara seiman mempertahankan diri.

Di saat yang sama, setelah berbilang tahun, pemerintah masih belum bisa berbuat apapun untuk mengembalikan Ambon yang nangise kembali manise. Provinsi kepulauan Maluku sudah di pecah dua. Konflik belum reda juga. Paling tidak baranya masih ada.

Setelah semua orang di negeri ini hampir lupa, (baca: tenggelam dalam kesibukkan memikirkan sisi lain dari krisis), tiba-tiba terdengar kisah baru, Panglima Laskar Jihad Ahlus Sunah Wal Jamaah Djafar Umar Thalib ditangkap saat transit di pelud Juanda Surabaya.
Negara dalam arti pemerintah eksekutif menyalib di tikungan, ambil cum dari kisah pilu ini. Ini kah bentuk keseriusan menyelesaikan konflik berdarah di Ambon?

Rakyat Merdeka berusaha menemui Djafar di tahanan Korserse Mabes Polri. Tetapi tidak bisa, tidak diijinkan pihak Korserse Mabes Polri. Tanpa alasan. Kuasa hukum Djafar, Eggy Sudjana pun hampir-hampir tidak boleh menemui kliennya. Berikut laporan Teguh Santosa. 

Sabtu (5/5). Langit mendung, beberapa saat lagi mungkin saja hujan turun. Sebuah sedan KIA Carnival merah dari arah perempatan CSW perlahan memasuki pelataran parkir Mabes Polri. Melewati rumah jaga, Carnival merah itu terus melaju menuju gedung Korps Serse (Korserse) Mabes Polri.

Puluhan wartawan yang sedari pagi mangkal di teras gedung Korserse Mabes Polri saling pandang penuh tanya. Siapa nih? Hanya sedetik, pertanyaan itu tak perlu menunggu jawaban. Detik berikutnya mereka adu cepat berlari menghampiri. Mobil yang masih bergerak itu dikerubuti. Pasti deh ini berita. 

Sedan berhenti. Dari pintu depan turun Eggy Sudjana yang lebih dikenal sebagai Presiden Persatuan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI). Sedan berlalu, gantian Eggy yang dikerumuni. Eggy tersenyum. Dia pun merasa dirinya bakal dijadikan sumber berita hangat siang itu.

Eggy yang siang itu mengenakan t-shirt dan celana jeans yang juga berwarna biru itu digiring menuju anak tangga gedung Korserse. Agar lebih leluasa bergerak Eggy membuka seluruh kancing abu-abu kotaknya. Lengan jasnya pun digulung mendekati siku.

Eggy naik ke anak tangga ketiga. Wartawan ngumpul di bawah. Pertanyaan satu persatu persatu mengalir. Eggy menjawab dengan berapi-api, penuh semangat. Terkadang tangannya diangkat ke udara, jarinya menuju langit. Gaya khas Eggy apabila sedang memimpin massanya demonstrasi.

Siang itu Eggy datang dalam kapasitasnya sebagai ketua tim kuasa hukum Panglima Laskar Jihad Ahlus Sunah Wal Jamaah, Djafar Umar Thalib yang sejak sehari sebelumnya “disimpan” di rumah tahanan Korserse Mabes Polri.

“Polisi melakukan kebohongan publik,” katanya setengah berteriak.

“Ketika menangkap Djafar di Surabaya, Mabes Polri mengaku telah mengirim dua surat panggilan sebelumnya. Tetapi, sesungguhnya lah, surat panggilan itu tidak pernah ada,” lanjutnya.

Usai diwawancarai, Eggy duduk di anak tangga tertinggi. Satu-dua wartawan menemaninya ngobrol. Inti obrolan tidak jauh-jauh dari kasus yang menimpa kliennya.

“Kondisi di Ambon itu sudah stabil dan berangsur baik. Sudah mendekati keadaan sebelum kerusuhan dua tahun lalu. Jadi tidak usahlah dipancing-pancing lagi. penangkapan Djafar saya kira akan kembali memicu kerusuhan,” kata bekas Ketua Umum PB HMI periode 1986-1988 ini.

Wartawan yang menemani Eggy ngobrol mengangguk-angguk. Eggy membetulkan letak kacamatanya. Lalu berdiri. Berjalan menuju ruang piket Korserse.

Beberapa petugas berpakaian preman menyambut kehadiran Eggy. Seorang petugas yang agaknya sudah mengenal Eggy mengulurkan tangan. Mereka berjabat tangan, saling lempar senyum sesaat. Tertawa kecil.

Sambil menyandarkan tubuhnya di meja piket, sedikit santai, Eggy menyampaikan maksud kedatangannya. “Saya hendak ketemu dengan Djafar. Kata Pak Aryanto (yang dimaksud adalah ketua tim penyidik Direktur Tindak Pidana Tertentu, Brigjen Polisi Aryanto Sutadi-red) any time kalau saya mau datang, silakan,” tangannya mengetuk-ngetuk kecil dinding meja.

Si petugas minta maaf. Tidak bisa. Sekarang hari libur. Kalau mau datang Selasa depan saja, saran petugas itu.
Eggy diam. Tidak beranjak barang selangkah pun. Lalu katanya, “Tapi itu janji Pak Aryanto pada saya, lho.”

Eggy diam lagi. Petugas-petugas di sekelilinginya juga salah tingkah. Mau diapain? Beberapa lama saling diam, Eggy mengajak Rakyat Merdeka yang sedari tadi mengekorinya ke ruang tunggu gedung Korserse.

Petugas-petugas itu masih diam saja.

Di ruang tunggu kembali curhat. “Kalau mau adil, mengapa hanya pimpinan laskar kelompok Islam saja yang ditangkap? Mengapa dari pihak laskar Kristen tidak ada? Apa mereka tidak tahu, masalah di Ambon itu multidimensi? Mengapa mereka hanya memperhatikan masalah penegakkan hukum yang aneh ini? Mengapa hal lain tidak mereka lakukan? Kalau mereka mau menegakkan hukum, mengapa baru sekarang?

Mengapa tidak dua tahun lalu, saat kerusuhan meletus,” tanya Eggy bertubi-tubi. Nada suaranya datar, pelan, menyembunyikan emosi.  Kedua tangannya diletakkan di atas sandaran kursi hijau. Tangan kanannya mengenggam ponsel Nokia.

Waktu pemeriksaan, kata Eggy, Aryanto Sutadi sempat kebablasan ngomong. Waktu itu Eggy mempertanyakan siapa yang memberi perintah penangkapan atas Djafar. Kok Direktur Tindak Pidana Tertentu sampai turun tangan?

Eh, Aryanto malah ngomong begini, “Djafar ini sudah target sejak awal.” Kaget mendengar jawaban Aryanto, Eggy langsung mengejar, “Lho kok sudah ditarget-target, maksudnya apa?” Atas pertanyaan susulan itu, menurut Eggy, Aryanto gelagapan, serba salah. Berkelit Aryanto bilang, “Maksud saya, semua anggota selalu saya perintahkan untuk fokus pada target operasi.”

Jawaban Aryanto itu lah yang membuat Eggy yakin, penangkapan atas Djafar ini dilakukan atas pesanan pihak tertentu.

Tiba-tiba ponsel Nokia di tangan kanan Eggy berdering. Tak lama Eggy bicara dengan seseorang di seberang sana. “Saya yakin lah, ini strategi Gus Dur. Dia mau Djafar ditangkap. Nanti Ambon rusuh lagi. Jadi dia kan punya lasan untuk buat keadaan darurat.”

Pintu kaca hitam terbuka. Tiga orang anggota kuasa hukum Prof H KMA Usop, tahanan Mabes Polri untuk kasus kerusuhan Sampit, melangkah masuk. Seperti Eggy, mereka pun tidak diperkenankan masuk menemui kliennya.

Eggy bertukar pikiran sebentar dengan Jeverson Dau, ketua tim kuasa hukum Usop. Intinya, mereka sama-sama kesal dengan berlebihannya tingkah petugas di Mabes Polri.

Tidak lama di ruang tunggu, tim kuasa hukum Usop keluar. Eggy, masih bertahan. Dalam keadaan seperti ini, kita harus ngotot pula, bisiknya.

Betul juga saran itu. Tak berapa lama masuk seorang polwan berpakaian preman membawa secarik kertas. “Pak Eggy, ini sudah ada ijin dari tim penyidik. Bapak boleh masuk. Tapi jangan bawa wartawan,” katanya sambil melirik Rakyat Merdeka. “Kalau tidak, ijin ini saya batalkan,” eh, pakai mengancam segala.

Setelah saling ngotot bersikeras, akhirnya dengan berat hati, Eggy meninggalkan Rakyat Merdeka. Tapi sebelumnya dia bisik-bisik dulu, “Nanti hubungi saya di dalam, supaya bisa wawancara dengan Djafar.”

Eggy berjalan mengikuti polwan itu. Belok kanan, menyusuri koridor berdinding putih. Lalu menghilang.

Dia “Bangga Jadi Orang Islam”

Laki-laki kelahiran Jakarta, 3 Desember 1959 ini bangga jadi orang Islam. Ukuran paling sederhana, doktor dari IPB ini memberi kelima anaknya nama-nama Islam yang sarat dengan makna dan nilai ketauhidan.

Berikut berturut-turut anak Eggy, Mohammad Alfat Tauhidillah (17), Hisbullah Asiddiq (15), Atikah Assahidah (12), Yusuf Mukhlisin (6), dan Jihar Kifari (3).

Selain itu, bagi Eggy, perjuangan menegakkan syariah Islam hanya bisa dilakukan lewat perjuangan di parlemen, artinya melalui partai politik Islam.

Tetapi, untuk masalah orang Islam dan orang no-Islam ini, Eggy tidak buta kuda. Ketika ditanya, mana menurutnya yang lebih berharga, orang Islam yang berbuat kebathilan, atau orang non-Islam yang berbuat kemashlahatan. Eggy menjawab mantap, yang kedua.(GUH)

Prestasi “Pentolan HMI MPO”

Penggemar motor besar ini adalah pentolan HMI Majelis Penyelamat Organisasi, yang lebih dikenal dengan HMI MPO. Eggy pernah jadi Ketua Umum PB HMI untuk periode 1986-1988.

Tetapi kemudian dia harus berseberangan dengan kawan-kawannya di HMI, ketika HMI masih terus menerima asas Pancasila.

“Kalau begitu, betul juga kata orang. Konflik di negara ini adalah konflik turunan HMI,” kata Rakyat Merdeka. Eggy tertawa terbaha-bahak sambil berkata, “Betul juga itu.” (GUH)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s